SEJARAH SMP NEGERI 2 BAKUNG
SEJARAH SMP NEGERI 2 BAKUNG
SMP NEGERI 2 BAKUNG atau yang lebih dikenal dengan sebutan SEMBADA memiliki sejarah yang sangat sangat menarik untuk pelajari.
Berawal dari tahun 1995 untuk meningkatkan mutu pendidikan di area pesisir selatan Kabupaten Blitar para tokoh pendidikan yang ada diwilayah barat menginisiasi adanya sekolah menengah pertama yang ada Bakung bagian barat.
Para tokoh pendidikan tersebut merasa prihatin karena banyak anak-anak yang memiliki minat sekolah namun jarak rumah ke sekolah yang ada di pusat kecamatan bakung kurang lebih 5 sampai 10 km.
Dari kondisi tersebut para tokoh pendidikan dan warga masyarakat mulai tahun 1996 bekerjasama dengan SMP NEGERI 1 BAKUNG dan PGRI Kecamatan Bakung untuk mengirim para guru untuk mengajar anak-anak yang berada di wilayah barat, dari situlah cikal bakal berdirinya SMP NEGERI 2 BAKUNG
Pada waktu itu SMPN 1 BAKUNG menugaskan Wakil Kepala Sekolahnya Bapak W. Joko Marsono dan para Sukwan atau sukarelawan yang bersedia mengajar anak-anak di wilayah barat.
Pada tahap awal pembelajaran karena gedung sekolah belum ada maka para siswa dan guru menumpang di SD NEGERI Plandirejo 2. Selang satu tahun barulah secara resmi pembelajaran bisa dilakukan di gedung milik sendiri yang hingga hari ini masih berdiri kokoh.
Pada waktu peresmian gedung sekolah tahun 1997 diresmikan oleh Basofi Sudirman selaku Gubernur Jawa Timur pada waktu itu.
Pembiayaan pembangunan gedung SMP NEGERI 2 BAKUNG dibiayai APBN kala itu. Hingga hari ini status tanah dan bangunan SMP NEGERI 2 BAKUNG sah milik Pemerintah Kabupaten Blitar.
Selang satu tahun resmi menempati bangunan pada tahun 1998 barulah SMP NEGERI 2 BAKUNG resmi menerima guru dan kepala sekolah dengan status PNS dimana kepala sekolah yang menjabat pertama pada waktu itu adalah Bapak Drs. Solichan.
Arti LOGO SMP NEGERI 2 BAKUNG.
1. Bentuk Bingkai Pentagon (Segi Lima)
Pendidikan Indonesia: Melambangkan Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah hidup bangsa, yang juga menjadi landasan utama sistem pendidikan nasional (Sistem Pendidikan Pancasila).
2. Warna Dasar Biru Muda
Melambangkan keluasan ilmu pengetahuan, kedamaian, dan kejernihan berpikir. Dalam konteks Blitar Selatan yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia, warna biru ini juga menggambarkan cakrawala dan laut selatan yang luas, menyiratkan cita-cita siswa yang harus digantungkan setinggi langit.
3. Simbol Trisula (Tombak Bermata Tiga) & Garis Gelombang Hitam
Ini adalah bagian paling spesifik yang mengikat logo ini dengan Blitar Selatan dan sejarahnya:
Konteks Sejarah (Operasi Trisula 1968): Wilayah Bakung dan Blitar Selatan merupakan basis utama penumpasan sisa-sisa G30S/PKI dalam Operasi Trisula (yang memuncak sekitar tahun 1968, sering dikaitkan hingga era 1970-an). Monumen Trisula sendiri berdiri di Kecamatan Bakung. Trisula di sini melambangkan kesiapsiagaan, ketegasan, dan kemenangan atas ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.
Garis Gelombang Hitam: Menggambarkan Pegunungan Selatan atau perbukitan kapur (karst) yang mendominasi geografis Bakung.
Budaya Jawa & Pendidikan: Trisula melambangkan tiga ketajaman manusia yang harus diasah melalui pendidikan: Cipta (pikiran/kognitif), Rasa (hati/afektif), dan Karsa (kemauan/psikomotorik).
Trisula juga sebagai simbol hubungan yang baik antara Tuhan sebagai pencipta, manusia dan alam sebagai tempat tinggalnya.
4. Buku Terbuka dan Pena (Alat Tulis)
Pendidikan Indonesia: Simbol universal gerbang ilmu pengetahuan. Sejalan dengan semboyan Tut Wuri Handayani, sekolah bertugas membuka wawasan dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Budaya Jawa: Melambangkan tradisi nguri-uri (melestarikan) ilmu lewat aksara dan sastra. Pena yang menancap tajam melambangkan ketajaman pikiran (landheping pikir) yang diperoleh dari belajar tekun.
5. Padi dan Kapas
Pendidikan & Nasionalisme: Merujuk pada sila kelima Pancasila (Keadilan Sosial), yang berarti pendidikan di SMPN 2 Bakung bertujuan menciptakan kemakmuran lahir (padi/pangan) dan batin (kapas/sandang-papan).
Budaya Jawa: Melambangkan filosofi "Makin berisi, makin merunduk" (seperti tanaman padi). Semakin tinggi ilmu yang diperoleh siswa, mereka harus semakin asor/rendah hati dan tidak sombong.
6. Bintang Emas di Puncak
Pendidikan Indonesia: Melambangkan Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) sekaligus lambang cita-cita luhur dan prestasi tertinggi. Pendidikan tidak hanya mencetak insan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan iman yang kuat (Profil Pelajar Pancasila).
7. Semboyan: "Dwija Atmaja Utama"
Kalimat ini diambil dari bahasa Jawa Kuno/Sanskerta yang memiliki arti sangat mendalam bagi dunia pendidikan:
Dwija: Guru, pendidik, atau orang yang mengalami "kelahiran kedua" melalui ilmu pengetahuan.
Atmaja: Anak kandung, putra-putri, atau generasi penerus.
Utama: Terbaik, mulia, atau unggul.
Arti Keseluruhan Semboyan:
Semboyan ini bermakna "Melahirkan putra-putri (generasi penerus) terbaik/mulia melalui bimbingan guru yang utama." Ini adalah komitmen SMP Negeri 2 Bakung untuk mendidik anak-anak di wilayah pinggiran pegunungan Blitar Selatan agar tidak kalah saing dan mampu menjadi insan yang unggul, berbakti, serta berguna bagi nusa dan bangsa.
Sejarah nama SEMBADA.
Berawal dari gagasan dari tokoh pendidik di SMP NEGERI 2 BAKUNG sekitar tahun 2008 menyumbangkan sebuah ide nama atau julukan untuk SMP NEGERI 2 BAKUNG.
Beberapa alternatif nama, namun pada akhirnya satu nama SEMBADA lah yang menjadi pilihan terakhir untuk julukan dari SMP NEGERI 2 BAKUNG.
SEMBADA merupakan serapan kata dari bahasa jawa yang memiliki arti kuat, berdaya juang, tangguh. Dalam pemaknaannya mengandung harapan SMP NEGERI 2 BAKUNG menjadi sekolahan yang tangguh, berdaya juang yang tinggi seperti julukannya SEMBADA.
Selain memiliki arti yang sangat mendalam SEMBADA juga merupakan akronim dari SEMpBAkungDuA.***
@Copyright2026-SMP NEGERI 2 BAKUNG